Kamis, 20 Maret 2014

Relevansi Agama sebagai Kebutuhan Hidup Manusia

Oleh. Adil Syakir. T
Suatu hal yang menjadi prinsip dasar pandangan dunia sekaligus merupakan pondasi penting dalam diri seorang manusia terutama bagi mereka yang “beragama” salah satunya adalah beriman atau memiliki kepercayaan.[1]  Dengan kepercayaannya itu akan melahirkan suatu tata nilai guna menopang hidup dan budayanya, dan tentunya tanpa adanya sikap yang dilandasi kepercayaan atau pun adanya keraguan tidak mungkin dapat mempercayai tentang ada sesuatu yang lebih berkuasa di luar kemampuan dirinya sendiri. Sehingga kepercayaan merupakan suatu persyaratan hakiki untuk dapat disebut sebagai agamawan, dan sudah dapat dipastikan bagi yang tidak memiliki kepercayaan hakiki tersebut bukanlah seorang agamawan.
Barangkali tidak berlebihan jika saya katakan, agama telah menjadi salah satu atribut paling penting bagi sebuah peradaban manusia. Agama dipandang sebagai suatu ketentuan yang mampu mengatur jalan hidup manusia agar memiliki nilai-nilai kehanifan dalam hidup seperti yang telah diajarkan dalam agama Ibrahim.[2] Agama diasumsikan sebagai institusi yang mampu mewadahi kebutuhan-kebutuhan psikis manusia, karena di dalam agama memberikan ajaran-ajaran yang sekiranya mampu menjawab persoalan-persoalan yang sulit untuk dipecahkan dalam pandangan sains sebagai wakil dari modernitas, semisal pembuktian adanya hari akhirat.
Seseorang akan dapat diakui sebagai seorang yang “beradab” dan atau “berperadaban” jika dalam dirinya melekat suatu atribut agama, terlepas apapun nama agama yang dianutnya. Terkadang bagi sebagian orang memiliki pandangan negatif tentang persoalan agama yang lebih mengidentikkan agama dengan keterbelakangan, ketertinggalan, kumpulan orang-orang primitif, memilliki pikiran radikalisme dan seterusnya. Pernyataan ini tidaklah benar juga tidak keiru, secara tidak langsung apa yang dikatakan tersebut hanya ingin memberikan shock terapy kepada golongan agamawan agar dapat mampu merevitalisasi sekaligus memikirkan kembali persoalan-persoalan keagamaan yang bukan sekedar bentuk ritual-ritual ibadah secara vertikal tanpa melihat sisi lain yang justru bersinggungan langsung dengan kehidupan kaum agamawan yang lain.
Barangkali juga terdapat kekekliruan kita dalam memahami teori antropologi yang menyatakan bahwa agama telah muncul bersamaan dengan keberadaan manusia di muka bumi ini dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun, yaitu kepercayaan kepada kekuatan ”supra rasional” dan ”supra natural”. Dorongan agama merupakan sesuatu tuntutan psikis manusia yang tidak dapat dihindari untuk membentuk interpretasi baru bagi dirinya untuk mengenal Tuhan sehingga mereka menciptakan suasana batin dengan mewujudkan sebuah bentuk peribadatan.[3]
Beberapa anggapan negatif yang ditujukan kepada kaum agamawan disinyalir sebagai “kambing hitam” atas munculnya perpecahan bahkan permusuhan dalam perkembangan kehidupan dewasa ini. Agama yang semestinya dijadikan sebagai alat kontrol masyarakat, justru dituduh sebagai penyebab keresahan dan selalu bertolak belakang dengan perubahan modernitas kehidupan.[4]
             Namun patut untuk dikaji, bukankah dalam kondisi ketidakberdayaan setiap orang pasti mengharapkan adanya ”keajaiban” agar dia dapat selamat dari bahaya, mendapat keberuntungan, mengharap terjadinya sesuatu yang sangat diharapkan. Oleh karenanya hal itu sebagai bukti bahwa sejatinya semua manusia memiliki potensi untuk beragama dengan satu tujuan, mencari kebahagiaan yang hakiki. Meskipun demikian bagi Sigmund Freud menganggap agama sebagai sebuah ilusi dan gangguan kejiwaan manusia yang mengakibatkan kemuduran kembali dalam hidup.[5] 
            Ketika ”potensi agama” yang ada pada diri manusia mengalami intervensi dari ”Tuhan”, melalui seruan ”para pengkhotbah”, rasul, nabi, pastor, pendeta, ulama bahkan para penjahat, nara pidana, dan koruptor sekalipun, yang terjadi selanjutnya adalah berebut Tuhan sebagai alih-alih berebut kebenaran menurut keyakinannya masing-masing. Manusia saling bersekongkol membentuk satu kelompok dan mengkafirkan kelompok yang lain, bahkan tidak jarang rela bertaruh nyawa. Jika sudah demikian halnya, di mana lagi kedamaian sejati yang ditawarkan agama? Masihkah agama diperlukan manusia jika hanya memberikan kesengsaraan hidup bagi keberlangsungan peradaban manusia?. Hal seperti inilah yang sudah semestinya dapat disorot agar keberlangsungan agama sebagai institusi Tuhan mampu berfungsi dan mengakar dengan baik dalam kehidupan manusia.
            Secara kodrati agama bukan sebagai bahan hinaan, juga bukan sesuatu yang membuat belenggu keimanan, sehingga muncul tindakan-tindakan kemanusiaan yang tidak manusiawi.  lain halnya dengan kenyataan bahwa agama merupakan persoalan pokok kehidupan manusia, kebutuhan manusia akan agama terlihat secara jelas dengan terjadinya “perjanjian primordial” ant ara manusia dengan Tuhan; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) pada agama fitrah ciptaan Allah yang Dia mendiptakan manusia atas fitrah itu, tak ada perubahan dalam ciptaan Allah itu” (Q.S. Ar-Rum: 30).[6]
Agama merupakan tema paling penting (kebutuhan pokok alamiah) yang sanggup membangkitkan perhatian serius manusia, seperti apa yang dikatakan Murtadha Muthahari bahwa kebutuhan manusia akan agama berakar dalam kondisi dasar eksistensi manusia yang senantiasa memerlukan objek pengabdian dan salah satu medianya adalah agama.[7] Oleh karenanya agama menyadarkan akan sebuah dimensi nilai yang abadi. Menurut F. O`Dea bahwa agama senantiasa memiliki enam fungsi diantaranya; Pertama, agama mendasarkan diri manusia pada segala sesuatu di luar dirinya. Kedua, agama menawarkan suatu hubungan transedental melalui pemujaan atau peribadatan dengan memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di atas ketidakpastian hidup. Ketiga, agama mensucikan nilai-nilai dan norma masyarakat yang telah dan akan terbentuk. Keempat, agama dapat memberikan standar nilai berupa norma-norma yang telah terlembaga yang dapat dikaji kembali secara kritis. Kelima, agama memberikan fungsi identitas bagi pemeluknya. Keenam, agama berkaitan dengan evolusi hidup manusia sehingga akan mempengaruhi karakteristik tingkat keberagamaan manusia.[8]
Suatu realitas sepanjang sejarah hidup dan kehidupan manusia masa lalu, kini, dan akan datang bahwa berbagai ideologi, aliran filsafat, ajaran-ajaran, dan lain sebagainya muncul dan hilang, akan tetapi agama tetap ada dan agama tidak pernah mati dan lenyap. Dalam arti, bentuk-bentuk penyembahan manusia kepada Illahi tetap ada dan terus menerus mengalami perkembangan. Quraish Shihab dalam bukunya menyatakan bahwa walaupun pemikiran manusia bisa berubah, secanggih – canggihnya teknologi bisa rusak, dan umat beragama bisa habis, namun agama walaupun tidak abadi, tetap ada. Karena agama tetap atau tidak pernah lenyap, maka ajaran tentang Tuhan yang diajarkan dalam dan oleh agama-agama pun tetap ada. Seandainya tidak ada agama, namun Tuhan tetap dan terus menerus ada, karena Ia tidak tergantung pada ada atau tidaknya agama.[9]
Salah satu faktor Agama muncul karena adanya manusia.[10] Manusia merupakan makhluk yang yang diberikan kesempurnaan berupa fitrah sebagai motivator intrinsik  untuk mencapai rasa atau naluri ingin tahu pada suatu hakikat relaitas kehidupan, karena dengannya manusia memiliki dorongan untuk memiliki rasa ketenteraman jiwa.[11] Agama hanya bisa terlihat sebagai agama dalam arti berdampak pada perubahan manusia secara utuh jika ada manusia yang menjadi penganut atau umatnya. Agama tak berarti apa-apa jika tidak ada umatnya. Agama akan menjadi sekedar kumpulan orang-orang yang menjalankan suatu sistem ajaran jika tidak dijalankan oleh penganutnya. Agama akan mempunyai faedah jika para penganutnya menjalankan serta mengaplikasikan ajarannya dengan baik dan benar dalam hidup dan kehidupan setiap hari.
Lalu mengapa manusia beragama? Jawaban sederhananya adalah karena manusia mempunyai naluri religius untuk menyembah sesuatu  di luar dirinya sebagai suatu ketundukan pada kekuasan yang superior artinya sebagai daya penentu kehidupan manusia yaitu sebuah ikatan yang menyatukan pikiran manusia dengan pikiran misterius yang menguasai dunia dan diri yang dia sadari, dan dengan hal-hal yang menimbulkan ketenteraman bila terikat dengan hal tersebut.[12] Namun, jika ditelaah lebih mendalam, maka alasan-alasan manusia beragama ternyata tidak sederhana. Ada banyak faktor yang menjadikan manusia ataupun seseorang beragama sekaligus mengembangkan pola-pola keberagamaannya. Pada umumnya, manusia beragama di dalamnya ada upaya sungguh-sungguh untuk menyembah dan percaya kepada Tuhan sebagai pusat keyakinannya, karena berbagai alasan. Misalnya, alasan atas keterbatasan dan ketidakmampuan psikologis. Manusia merasa tidak mempunyai kepastian masa depan karena tak mampu mengikuti perubahan, sehingga mengalami stagnasi berpikir, kemudian melarikan diri kepada hal-hal rohaniah.
Di samping semua hal tersebut, ada orang yang menjadi pemeluk atau umat salah satu agama dengan alasan-alasan khas, misalnya ingin memberi pengaruh positif pada hidup dan kehidupan secara pribadi dan anggota masyarakat serta ikut ambil bagian dalam pembangunan serta perbaikan masyarakat melalui berbagai bidang hidup dan kehidupan. Atau pun ajaran agama menjadikan manusia mempunyai sikap moral dan etika yang baik, sehingga mampu membangun relasi antar sesama dengan penuh tanggungjawab, mendorong seseorang untuk berbuat kebajikan, membantu, menolong, memperhatikan sesama manusia berdasarkan cinta kasih.
Betapa pun alasan yang dikeluarkan tentang agama, Agama berperan untuk perubahan manusia, sebaliknya manusia pun dapat berubah karena adanya agama. Oleh sebab itu, ada beberapa peran yang bisa dilakukan agama terkait peranannya sebagai  institusi agama atau umat beragama, terutama mereka yang berperan sebagai pemimpin-pemimpin keagamaan. Ketika seseorang mengikatkan diri pada agama tertentu atau menjadi umat beragama, tersirat dari dalam dirnya bahwa ia harus mendapat keuntungan dari tindakannya itu. Ini berarti, agama harus membawa perbaikan dan perubahan total pada manusia.


[1]. Menurut Cak Nur bahwa yang disebut dengan beriman bukan sekedar percaya kepada Tuhan seperti orang Mekkah dahulu yang mewujudkan bentuk kepercayaannya kepada berhala-berhala tuhan yang nisbi, melainkan sikap percaya terhadap Tuhan tersebut mesti dalam kualitas-Nya sebagai satu-satunya yang bersifat keillahian atau ketuhanan dan tidak memandang adanya kualitas serupakepada suatu apapun yang lain. Lihat Nurcholis Madjid. Pintu-pintu menuju Tuhan. (Jakarta; Paramadina, 2008).
[2].  Murtadha Muthahari, Perspektif Al – Qur’an Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 85
[3]. Dadang Kahmad, Sosiologi Agama. (Bandung, Pustaka Setia, 2011), Hlm. 64
[4] . Ibid., Hlm. 6
[5] . Ibid. Hlm. 64
[6] . Ibid., Hlm. 63
[7] . Murtadha Muthahari, Perspektif Al – Qur’an Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 43
[8] . Dengan demikian agama sebagai ajaran pandangan hidup atau landasan Ideologi yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia.    Lihat Ibid., Hlm. 64-65 dan Thomas F. O`Dea, Sosiologi Agama, (Jakarta; Rajawali Press, 1994), Hlm. 26-29.
[9].  M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat), (Jakarta; Mizan, 2004),  Hlm. 375 – 376
[10]. Lihat Nurcholis Madjid. Islam Doktrin dan Peradaban. (Jakarta; Paramadina, 2008) Hlm. 32
[11] . Ibid., Hlm. 5
[12] . Emile Durkheim, The Elementary Forms of The Religious Life,terj. Inyiak Ridwan M. (Yogyakarta; Ircisod, 2011),  Hlm. 56

Tafsir Teologis dan Ideologis Islam sebagai Mazhab HMI[1]

A.    Islam sebagai agama sempurna
Misi kedatangan Islam bermula ketika agama-agama sebelumnya tidak mampu lagi menjawab kebutuhan manusia akan aktualiasi kebutuhan spiritual terhadap kekuatan ghoib. Islam hadir dengan menawarkan konsep-konsep penyempurnaan terhadap agama sebelumnya. Konsep-konsep tersebut berupa jawaban terhadap kebutuhan manusia. Manusia memiliki sebuah fitrah yang telah ada sejak proses penciptaan[2]. Sebab fitrah merupakan bawaan alami yang melekat dalam diri manusia.
Berdasarkan bentuknya agama terbagi atas agama samawi dan agama ardhi[3]. Agama samawi adalah agama wahyu, agama langit, agama yang dibawa melalui perantaraan nabi/rasulnya. Sedangkan agama ardhi adalah agama bumi, agama budaya, agama filsafat, agama ra’yu, agama yang ciptakan manusia itu sendiri. Berdasarkan kedua bentuk agama tersebut maka kita dihadapkan untuk memilih agama, apakah agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) ataukah agama ardhi (Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shintu dan termasuk aliran kepercayaan).
Setelah pembahasan tersebut, selanjutnya manusia dihadapkan pada pilihan untuk memilih satu agama, apakah agama samawi ataukah agama ardhi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut manusia perlu melalui proses panjang, proses yang berliku-liku sebab pencarian terhadap agama hakiki tak sama perbandingannya dengan pencarian dengan sebuah organisasi mahasiswa.
Untuk menentukan agama mana yang perlu dimiliki oleh manusia, manusia perlu mengetahui dulu alasan untuk beragama. Agama samawi sebagai agama wahyu yang datangnya dari Allah yang disampaikan kepada ummat manusia melalui perantaran utusannya. Agama wahyu pada esensinya adalah agama yang penuh dengan kasih sayang (Ar-Rahman – Ar-Rahim) dari Allah kepada seluruh ummatnya agar manusia memiliki pedoman keselamatan dalam mengarungi segala aktivitas kehidupan duniawi dan ukhrawi. Berdasarkan urian singkat diatas maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk selamat dalam menjalani kehidupan maka manusia diharuskan untuk berpedoman pada agama samawi.  Sebab agama samawi adalah agama yang diwahyukan kepada manusia melalui para Nabi/Rasul-Nya.
Kita perlu membedakan juga ajaran para nabi dan rasul yang bersifat loka-historis dan ajaran yang bersifat normative-universal[4]. Ajaran Nabi Musa tentang cara penyembahan Allah SWT tentu berbeda dengan ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Isa. Ajaran penyembahan kepada Allah yang dibawa oleh Nabi Isa tentu sangat jauh perbedaannya dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad itu sendiri. Perbedaan tersebut didasarkan pada kondisi social-kemasyarakatan, historiscal-demografi yang menghasilkan tipologi ritual yang berbeda-berbeda dari setiap nabi. Ajaran agama hadir untuk memperbaiki kondisi-kondisi tersebut. Sedangkan ajaran yang sifatnya universal tersebut adalah ajaran untuk tunduk dan pasrah kepada Allah.
Islam dalam makna generiknya adalah sikap pasrah dan tunduk (al-inqiyad wa al-khudu)[5] Islam sebagai agama sempurna menyempurnakan segala kekurangan dari ajaran-ajaran nabi sebelum Muhammad. Penyempurnaan tersebut tidak hanya dari segi aqidah tetapi juga dari segala bentuk ibadah dan akhlak. Termasuk yang disempurnakan juga adalah kondisi kehidupan sosial, ekonomi, politik bangsa arab pada saat itu.
Jadi pada dasarnya semua agama sama yang menyembah satu Tuhan. Semua ajaran agama mengajarkan untuk tunduk dan pasrah pada ketentuan Tuhan. Ajaran-ajaran agama hanya berbeda pada soal ketentuan syariat. Khusus pada ajaran Agama Islam, Islam yang hadir belakangan bertujuan untuk memperbaiki setiap perbedaan tersebut. Hanya saja pengikut-pengikut ajaran terdahulu tidak terima dengan kehadiran Islam yang dibawa oleh Muhammad.
Pembahasan yang menjelaskan bahwa Islam sebagai ajaran agama sempurna  dengan beberapa penjelasan dalam Kitab Suci ummat Islam. Ada beberapa ayat yang menjelaskan hal tersebut diantaranya surah Al-Maidah ayat 3. Dalam artinya dikatakan demikian
… pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…”
Dalam surah Al-Imran ayat 19. Artinya kira-kira begini
sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya”.
Ayat tersebut mendeskripsikan bahwa ajaran agama Islam-lah yang diridhoi oleh Allah, sebelum Islam kita mengenal banyak ajaran agama yang ada pada bangsa arab pada saat itu. Muhammad datang untuk menyempurnakan ajaran-ajaran Ibrahim yang terdahulu dengan Kitab Suci Al-Quran dan Hadist. Islam bukan sebuah nama agama yang dibawa oleh Muhammad, melainkan Islam merupakan ajaran Tuhan yang universal.
Akmal Tarigan yang mengutip pernyataan Murtdha Muthahhari mengatakan; Al-Quran menyebut agama Tuhan itu Islam, dan menggambarkannya sebagai suatu proses berkelanjutan sejak Adam AS hingga nabi terakhir Muhammad. Ini tidak berarti bahwa agama Allah itu selalu dikenal dengan Islam (sikap tunduk dan pasrah). Maksudnya adalah bahwa Islam merupakan kata yang paling tepat untuk menggambarkan karakter agama ini[6]. Penjelasaannya adalah dari ayat tersebut dan pernyataan Muthahhari, Islam memang hadir dalam rangka memperbaiki kondisi arab pada saat itu tidak hanya memperbaiki masalah hukum yang berkaitan dengan syar’i tetapi mencakup keseluruhan sendi kehidupan. Memperbaiki kondisi bergaul dengan macam suku, bahasa, dan ras yang ada di arab pada saat tersebut yang lebih dikenal dengan Piagam Madinah
Keistimewaan Islam merupakan bentuk dari pernyataan bahwa Islam adalah agama hakiki. Keistimewaan Islam tidak terlepas dari sumber ajaran agama Islam itu sendiri yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Kedua sumber ajaran Islam itu memiliki keaslian otentik yang tidak pernah berubah-ubah. Keistimewaan lain dari ajaran Islam adalah awal mula Islam yang terlahir dalam kondisi masyarakat majemuk arab. Masyarakat arab pada saat kedatangan Islam terdiri dari bermacam-macam suku/kabilah, bermacam-macam aliran kepercayaan, bermacam-macam ras dari bangsa arab pada saat itu. Maka dari itu Islam memiliki ajaran yang universal. Islam mengajarkan kepada setiap ummatnya untuk selalu hidup dalam prinsip kasih sayang, nilai-nilai toleransi dan pluralisme yang diyakini setiap ummatnya sebagai ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin.
B.     Islam sebagai nilai dasar HMI
HMI terlahir dalam kondisi Negara Indonesia yang masih berkecamuk dalam mempertahankan kemerdekaan. Terbentuknya Indonesia sebagai Negara  tidaklah mudah sebab setelah memproklamsikan kemerdekaanpun bangsa Indonesia masih menjadi target untuk kembali dilakukan penjajahan. Belanda dan sekutunya tidak terima dengan kemerdekaan Indonesia maka pada tahun periode 1947 dikenal dengan peristiwa agresi militer belanda. Pada saat itu pula sebuah organisasi mahasiswa terlahir dengan latar belakang mempertahankan kemerdekaan, mempertinggi derajat masyarakat Indonesia dan mempertinggi derajat ummat Islam Indonesia yang berpegang pada prinsip ajaran agama Islam. itulah Himpunan Mahasiswa Islam
Islam adalah agama sempurna maka pada saat itu diputuskan bahwa asas dari organisasi tersebut berasaskan asas Islam[7]. Kesempurnaan Islam menjadi bagian dalam semangat perjuangan HMI. Arah dan gerak HMI setia pada ajaran agama Islam. Islam dalam HMI adalah Islam yang bersumber pada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah. Ke-Islaman, ke-Indonesian dan Keintelektualan adalah ciri dari organisasi yang selalu diperjuangan oleh setiap kader HMI.
Namun belakangan banyak kalangan yang mengganggap bahwa HMI adalah Islam liberal[8]. HMI adalah Islamnya kebarat-baratan. Anggapan tersebut akan selalu menjadi tantangan tersendiri oleh setiap kader HMI. Kader HMI mesti menjawab anggapan tersebut dengan cara setiap kader HMI dalam pola ucap dan pola tindaknya menonjolkan kepribadian dengan nilai-nilai yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah. Kegiatan-kegiatan dakwah HMI perlu dihidupkan kembali dalam dunia perkuliahan. Aktivitas dari setiap kader HMI dikembalikan lagi dalam ranah-ranah aktuliasasi mesjid-mesjid kampus.
Keislaman pada organisasi HMI itu dijabarkan secara lengkap pada materi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang nantinya NDP pada HMI ini dijadikan sebagai sebuah ideologi. Nilai –Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI dikenal sebagai tafsir asas Islam[9]. Tafsir asas tersebutlah yang dijadikan sebagai pedoman dasar perkaderan. NDP ditafsirkan sebagai metodologi dalam memahami Islam secara kaffah baik dalam pola pikir dan maupun dalam pola tindak sehingga nantinya bisa diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu. NDP HMI merupakan konsep yang memuat nilai-nilai ajaran Al-Quran yang bersifat universal, diajarkan kepada kader dengan sekumpulan nilai. Ajaran NDP tidak memuat hal-hal yang sifatnya teknis fiqhiyyah dan hal tersebut tidak diajarkan kepada kader. Melainkan diberikan keleluasaan kepada kader apakah ia pengikut mazhab Syafi’i, Hanafi, Syiah, Muhammadiyah, NU, Persis, dan sebagainya terserah kepada pribadi kader masing-masing[10] Tantangan terbesar hari ini adalah memberikan pemahaman yang jelas terkait penerapan nilai-nilai dasar perjuangan.
C.     Iman dan Persoalan Keyakinan Umat Manusia
Masalah keyakinan kini sering menjadi pertanyaan masyarakat. Keyakinan kini sering dipertanyakan sebab banyak bentuk keyakinan yang tidak berdasar ke-tauhidan. Ke-tauhidan kini perlu diperjalaskan kepada setiap masyarakat sebab banyaknya masalah perbedaan keyakinan menjadi salah satu pemicu konflik. Maka dari itu gerakan perbaikan keyakinan perlu dilakukan oleh setiap masyarakat muslim. Iman dan keyakinan perlu di update setiap harinya agar kehidupan lebih berwarna.
Perkara keimanan bukan hanya sekedar sikap percaya kepada Tuhan. Sikap beriman akan menjadikan manusia memandang Tuhan sebagai tempat menyandarkan diri dan menjadikan sebagai tempat menggantungkan harapan sehingga konsistensi iman merupakan perwujudan dari sikap berbaik sangka (khusnu zhan) kepada Tuhan. Keimanan sering juga dikatakan sebagai sikap hidup/gaya hidup yang dipercaya dalam bentuk melaksanakan perintah-perintah agama.
Masalah keimanan adalah masalah hati yang sangat privat[11]. Menurut para ulama ketika ditanyakan tentang dimana letaknya iman?, para ulama menjawabnya dengan mengatakan tempatnya ada didalam hati setiap manusia (mahalluha fi al-qalb) yang pada esensinya adalah kehidupan sehari-hari cenderung takut berbuat kesalahan karena memiliki keimanan. Sikap beriman berarti pula memiliki konsekuensi yang tinggi. Pertama; kesedian untuk tunduk dan pasrah hanya kepada Allah. Kedua; kesedian untuk mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala perintahnya sehingga nantinya terwujud sikap positif, berperilaku kreati progresif yang akan menciptakan peradaban baru.
Kehidupan beragama menuntut umatnya agar memiliki keimanan sebab keimanan melahirkan tata nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kehidupan sumbernya pada Tuhan dan kembalinya pun kepada Tuhan. Sikap berserah diri kepada Tuhan adalah bentuk dari keyakinan bahwa tiada tuhan selain Tuhan (Allah). Mengetahui dan meyakini bahwa dalam alam jagad raya ada yang mengaturnya, dialah Allah yang memiliki kekuasaan  yang tidak dimiliki oleh ummatnya.
Manusia harus yakin bahwa hanya ada satu Tuhan yang Universal (monoteisme) bukan politeisme. Keyakinan akan Tuhan nantinya menjadi gairah dalam setiap penyembahan. Ketika manusia sudah benar-benar yakin akan adanya Tuhan dengan segala kuasanya maka segala aktivitas kehidupan akan selalu siap untuk dpertanggunjawabkan dipengadilan Tuhan, yaitu hari Akhirat nantinya.
D.    Universalisme Islam
Mengutip pernyataan Mahaguru kita Cak Nur, yang mengatakan bahwa “Al-Islam shalih li kulli zaman wa makan”[12]. Dalam terjemahan Indonesianya dikatakan bahwa Islam sesuai dengan segala zaman dan tempat. Hal itu kita ketahui bersama bahwa Islam bukanlah sebuah sekte atau agama budaya melainkan Islam merupakan ajaran yang sifatnya universal. Agama yang tidak hanya hadir dalam bangsa arab tetapi juga Islam bisa diterima dinegara-negara barat dan negara-negara bagian timur karena kekhasan ajarannya yang mudah diterima oleh setiap masyarakat. Dan juga Islam merupakan agama yang paling banyak mencakup berbagai macam suku, budaya, serta ras dari setiap pemeluk agama Islam sangat berbeda-beda.
Bangsa arab tidak bisa memonopoli bahwa Islam merupakan agama yang hanya diperuntukkan oleh bangsa arab. Ajaran agama Islam juga berlaku untuk bangsa non arab dan perlu diketahui bahwa tidak semua bangsa arab beragama Islam. Pada dasarnya Islam diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Muhammad merupakan utusan terakhir yang diberi amanah untuk menyebarkan ajaran yang universal yaitu Islam. Hal ini membuktikan bahwa ajaran Islam itu berlaku bagi bangsa arab dan juga berlaku untuk bangsa-bangsa bukan arab. Keuniversalan Islam tidak bergantung pada suatu bahasa, tempat, ataupun kelompok manusia.
Pokok pembahasan ajaran Islam yang universal dapat ditinjau dari pengertian Islam itu sendiri. Islam dalam makna generiknya mengajarkan bahwa Islam adalah sikap pasrah kepada Tuhan yang diajarkan kepada manusia dan juga diajarkan kepada seluruh alam raya. Dalam kitab suci Al-Quran kita mendapati penegasan bahwasanya ajaran agama para nabi terdahulu sebelum Muhammad adalah semuanya al-islam. Maksudnya adalah mengajarkan sikap patuh dan pasrah kepada setiap umatnya.
Dalam surah al-baqarah ayat 131 yang terjemahannya sebagai berikut :
Ingatlah ketika Tuhannya (yakni Tuhan nabi Ibrahim) berfirman kepadanya, “berserah dirilah!’ dia menjawab, “aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam”.
Karena merupakan inti semua agama yang benar itu al-islam atau pasrah kepada Tuhan adalah pangkal adanya hidayah Ilahi kepada seseorang. Maka al-islam menjadi landasan universal kehidupan manusia berlaku untuk setiap orang, disetiap tempat dan waktu[13].
Dari tulisan sangat singkat ini, penulis memohon maaf apabila ada kekeliruan pemahaman terhadap Islam. Mari kita mendiskusikannya…


[1] Oleh Akmaluddin dalam kajian rutin Komisariat Hukum 47
[2] Murtadha Muthahhari, “Fitrah”, (Jakarta: Lentera, 1999), hlm 20
[3] Lihat buku materi “Keislaman dan Ibadah” (Malang: UMM pres 2012), hlm 5
[4] Azhari Akmal Tarigan, ”Islam Mazhab HMI tafsir tema besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), (Jakarta:Kultura 2007) hlm 9
[5] Idem, hal 7
[6] Idem hlm 10
[7] Lihat konstitusi HMI pasal III
[8] Tulisan ini dibuat (salah satu tujuannya) untuk menanggapi kegelisahan seorang kader yang dalam pemikiran subjektifnya menilai akan hal tersebut.
[9] Azhari Akmal Tarigan, ”Islam Mazhab HMI tafsir tema besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), (Jakarta:Kultura 2007) hlm 1
[10] Idem hlm 3
[11] Idem hlm 13
[12] Nurcholish Madjid, “Islam Doktrin dan Peradaban sebuah telaah kritis tentang masalah keimanan, kemanusiaan dan komederenan”, (Jakarta; Paramadina cetakan ketiga 1995), hlm 425
[13] Idem hlm 435