Rabu, 06 Agustus 2014
Kamis, 20 Maret 2014
Relevansi Agama sebagai Kebutuhan Hidup Manusia
Oleh. Adil Syakir. T
Suatu hal yang menjadi prinsip dasar pandangan dunia sekaligus merupakan pondasi penting dalam diri seorang manusia
terutama bagi mereka yang “beragama” salah satunya adalah beriman atau memiliki kepercayaan.[1] Dengan kepercayaannya itu akan
melahirkan suatu
tata
nilai guna menopang hidup dan budayanya, dan tentunya tanpa adanya sikap yang dilandasi kepercayaan atau pun adanya keraguan tidak
mungkin dapat mempercayai
tentang ada sesuatu yang
lebih berkuasa di luar kemampuan dirinya sendiri. Sehingga kepercayaan merupakan suatu persyaratan hakiki untuk dapat
disebut sebagai agamawan, dan sudah dapat dipastikan bagi yang tidak memiliki
kepercayaan hakiki tersebut bukanlah seorang agamawan.
Barangkali tidak berlebihan jika
saya katakan, agama telah menjadi salah satu atribut paling penting bagi sebuah
peradaban manusia. Agama dipandang sebagai suatu ketentuan yang mampu mengatur
jalan hidup manusia agar memiliki nilai-nilai kehanifan dalam hidup seperti
yang telah diajarkan dalam agama Ibrahim.[2]
Agama diasumsikan sebagai institusi yang mampu mewadahi kebutuhan-kebutuhan
psikis manusia, karena di dalam agama memberikan ajaran-ajaran yang sekiranya
mampu menjawab persoalan-persoalan yang sulit untuk dipecahkan dalam pandangan
sains sebagai wakil dari modernitas, semisal pembuktian adanya hari akhirat.
Seseorang akan dapat diakui sebagai
seorang yang “beradab” dan atau “berperadaban” jika dalam dirinya melekat suatu
atribut agama, terlepas apapun nama agama yang dianutnya. Terkadang bagi
sebagian orang memiliki pandangan negatif tentang persoalan agama yang lebih
mengidentikkan agama dengan keterbelakangan, ketertinggalan, kumpulan
orang-orang primitif, memilliki pikiran radikalisme dan seterusnya. Pernyataan
ini tidaklah benar juga tidak keiru, secara tidak langsung apa yang dikatakan
tersebut hanya ingin memberikan shock terapy kepada golongan agamawan
agar dapat mampu merevitalisasi sekaligus memikirkan kembali
persoalan-persoalan keagamaan yang bukan sekedar bentuk ritual-ritual ibadah
secara vertikal tanpa melihat sisi lain yang justru bersinggungan langsung
dengan kehidupan kaum agamawan yang lain.
Barangkali juga terdapat kekekliruan
kita dalam memahami teori antropologi yang menyatakan bahwa agama telah muncul
bersamaan dengan keberadaan manusia di muka bumi ini dalam bentuk yang paling
sederhana sekalipun, yaitu kepercayaan kepada kekuatan ”supra rasional” dan
”supra natural”. Dorongan agama merupakan sesuatu tuntutan psikis manusia yang
tidak dapat dihindari untuk membentuk interpretasi baru bagi dirinya untuk
mengenal Tuhan sehingga mereka menciptakan suasana batin dengan mewujudkan
sebuah bentuk peribadatan.[3]
Beberapa anggapan negatif yang
ditujukan kepada kaum agamawan disinyalir sebagai “kambing hitam” atas
munculnya perpecahan bahkan permusuhan dalam perkembangan kehidupan dewasa ini.
Agama yang semestinya dijadikan sebagai alat kontrol masyarakat, justru dituduh
sebagai penyebab keresahan dan selalu bertolak belakang dengan perubahan
modernitas kehidupan.[4]
Namun patut untuk dikaji, bukankah dalam
kondisi ketidakberdayaan setiap orang pasti mengharapkan adanya ”keajaiban” agar
dia dapat selamat dari bahaya, mendapat keberuntungan, mengharap terjadinya
sesuatu yang sangat diharapkan. Oleh karenanya hal itu sebagai bukti bahwa
sejatinya semua manusia memiliki potensi untuk beragama dengan satu tujuan,
mencari kebahagiaan yang hakiki. Meskipun demikian bagi Sigmund Freud
menganggap agama sebagai sebuah ilusi dan gangguan kejiwaan manusia yang
mengakibatkan kemuduran kembali dalam hidup.[5]
Ketika
”potensi agama” yang ada pada diri manusia mengalami intervensi dari ”Tuhan”,
melalui seruan ”para pengkhotbah”, rasul, nabi, pastor, pendeta, ulama bahkan
para penjahat, nara pidana, dan koruptor sekalipun, yang terjadi selanjutnya
adalah berebut Tuhan sebagai alih-alih berebut kebenaran menurut keyakinannya
masing-masing. Manusia saling bersekongkol membentuk satu kelompok dan
mengkafirkan kelompok yang lain, bahkan tidak jarang rela bertaruh nyawa. Jika
sudah demikian halnya, di mana lagi kedamaian sejati yang ditawarkan agama?
Masihkah agama diperlukan manusia jika hanya memberikan kesengsaraan hidup bagi
keberlangsungan peradaban manusia?. Hal seperti inilah yang sudah semestinya dapat
disorot agar keberlangsungan agama sebagai institusi Tuhan mampu berfungsi dan
mengakar dengan baik dalam kehidupan manusia.
Secara
kodrati agama bukan sebagai bahan hinaan, juga bukan sesuatu yang membuat
belenggu keimanan, sehingga muncul tindakan-tindakan kemanusiaan yang tidak
manusiawi. lain halnya dengan kenyataan bahwa agama merupakan persoalan
pokok kehidupan manusia, kebutuhan manusia akan agama terlihat secara jelas
dengan terjadinya “perjanjian primordial” ant ara manusia dengan Tuhan; “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) pada agama fitrah ciptaan Allah yang
Dia mendiptakan manusia atas fitrah itu, tak ada perubahan dalam ciptaan Allah
itu” (Q.S. Ar-Rum: 30).[6]
Agama merupakan tema paling penting (kebutuhan pokok
alamiah) yang sanggup membangkitkan perhatian serius manusia, seperti apa yang
dikatakan Murtadha Muthahari bahwa kebutuhan manusia akan agama berakar dalam kondisi
dasar eksistensi manusia yang senantiasa memerlukan objek pengabdian dan salah
satu medianya adalah agama.[7]
Oleh karenanya agama menyadarkan akan sebuah dimensi nilai yang abadi. Menurut
F. O`Dea bahwa agama senantiasa memiliki enam fungsi diantaranya; Pertama, agama
mendasarkan diri manusia pada segala sesuatu di luar dirinya. Kedua, agama
menawarkan suatu hubungan transedental melalui pemujaan atau peribadatan dengan
memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di atas
ketidakpastian hidup. Ketiga, agama mensucikan nilai-nilai dan norma
masyarakat yang telah dan akan terbentuk. Keempat, agama dapat
memberikan standar nilai berupa norma-norma yang telah terlembaga yang dapat
dikaji kembali secara kritis. Kelima, agama memberikan fungsi identitas
bagi pemeluknya. Keenam, agama berkaitan dengan evolusi hidup manusia
sehingga akan mempengaruhi karakteristik tingkat keberagamaan manusia.[8]
Suatu realitas sepanjang sejarah hidup dan kehidupan manusia
masa lalu, kini, dan akan datang bahwa berbagai ideologi, aliran filsafat,
ajaran-ajaran, dan lain sebagainya muncul dan hilang, akan tetapi agama tetap
ada dan agama tidak pernah mati dan lenyap. Dalam arti, bentuk-bentuk
penyembahan manusia kepada Illahi tetap ada dan terus menerus mengalami
perkembangan. Quraish Shihab dalam bukunya menyatakan bahwa walaupun pemikiran
manusia bisa berubah, secanggih – canggihnya teknologi bisa rusak, dan umat
beragama bisa habis, namun agama walaupun tidak abadi, tetap ada. Karena agama
tetap atau tidak pernah lenyap, maka ajaran tentang Tuhan yang diajarkan dalam
dan oleh agama-agama pun tetap ada. Seandainya tidak ada agama, namun Tuhan
tetap dan terus menerus ada, karena Ia tidak tergantung pada ada atau tidaknya
agama.[9]
Salah satu faktor Agama muncul karena adanya manusia.[10]
Manusia merupakan makhluk yang yang diberikan kesempurnaan berupa fitrah
sebagai motivator intrinsik untuk mencapai rasa atau naluri ingin tahu
pada suatu hakikat relaitas kehidupan, karena dengannya manusia memiliki dorongan
untuk memiliki rasa ketenteraman jiwa.[11]
Agama hanya bisa terlihat sebagai agama dalam arti berdampak
pada perubahan manusia secara utuh jika ada manusia yang menjadi penganut atau
umatnya. Agama tak berarti apa-apa jika tidak ada umatnya. Agama akan menjadi
sekedar kumpulan orang-orang yang menjalankan suatu sistem ajaran jika tidak
dijalankan oleh penganutnya. Agama akan mempunyai faedah jika para penganutnya
menjalankan serta mengaplikasikan ajarannya dengan baik dan benar dalam hidup
dan kehidupan setiap hari.
Lalu mengapa manusia beragama? Jawaban sederhananya adalah
karena manusia mempunyai naluri religius untuk menyembah sesuatu di luar dirinya sebagai suatu ketundukan pada
kekuasan yang superior artinya sebagai daya penentu kehidupan manusia yaitu
sebuah ikatan yang menyatukan pikiran manusia dengan pikiran misterius yang
menguasai dunia dan diri yang dia sadari, dan dengan hal-hal yang menimbulkan
ketenteraman bila terikat dengan hal tersebut.[12]
Namun, jika ditelaah lebih mendalam, maka alasan-alasan manusia beragama
ternyata tidak sederhana. Ada banyak faktor yang menjadikan manusia ataupun
seseorang beragama sekaligus mengembangkan pola-pola keberagamaannya. Pada
umumnya, manusia beragama di dalamnya ada upaya sungguh-sungguh untuk menyembah
dan percaya kepada Tuhan sebagai pusat keyakinannya, karena berbagai alasan.
Misalnya, alasan atas keterbatasan dan ketidakmampuan psikologis. Manusia
merasa tidak mempunyai kepastian masa depan karena tak mampu mengikuti
perubahan, sehingga mengalami stagnasi berpikir, kemudian melarikan diri kepada
hal-hal rohaniah.
Di samping semua hal tersebut, ada orang yang menjadi
pemeluk atau umat salah satu agama dengan alasan-alasan khas, misalnya ingin
memberi pengaruh positif pada hidup dan kehidupan secara pribadi dan anggota
masyarakat serta ikut ambil bagian dalam pembangunan serta perbaikan masyarakat
melalui berbagai bidang hidup dan kehidupan. Atau pun ajaran agama menjadikan
manusia mempunyai sikap moral dan etika yang baik, sehingga mampu membangun
relasi antar sesama dengan penuh tanggungjawab, mendorong seseorang untuk
berbuat kebajikan, membantu, menolong, memperhatikan sesama manusia berdasarkan
cinta kasih.
Betapa pun alasan yang dikeluarkan tentang
agama, Agama berperan untuk perubahan manusia, sebaliknya manusia pun dapat
berubah karena adanya agama. Oleh sebab itu, ada beberapa peran yang bisa
dilakukan agama terkait peranannya sebagai institusi agama atau umat
beragama, terutama mereka yang berperan sebagai pemimpin-pemimpin keagamaan.
Ketika seseorang mengikatkan diri pada agama tertentu atau
menjadi umat beragama, tersirat dari dalam dirnya bahwa ia harus
mendapat keuntungan dari tindakannya itu. Ini berarti, agama
harus membawa perbaikan dan perubahan total pada manusia.
[1]. Menurut Cak Nur bahwa yang disebut dengan beriman bukan
sekedar percaya kepada Tuhan seperti orang Mekkah dahulu yang mewujudkan bentuk
kepercayaannya kepada berhala-berhala tuhan yang nisbi, melainkan sikap percaya
terhadap Tuhan tersebut mesti dalam kualitas-Nya sebagai satu-satunya yang
bersifat keillahian atau ketuhanan dan tidak memandang adanya kualitas
serupakepada suatu apapun yang lain. Lihat Nurcholis Madjid. Pintu-pintu
menuju Tuhan. (Jakarta; Paramadina, 2008).
[2].
Murtadha Muthahari, Perspektif
Al – Qur’an Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 85
[7] . Murtadha Muthahari, Perspektif Al – Qur’an
Tentang Manusia dan Agama. (Bandung: Mizan, 1992). Hlm. 43
[8] . Dengan
demikian agama sebagai ajaran pandangan hidup atau landasan Ideologi yang tidak
dapat dipisahkan dari diri manusia. Lihat Ibid., Hlm. 64-65
dan Thomas F. O`Dea, Sosiologi Agama, (Jakarta; Rajawali Press, 1994), Hlm.
26-29.
[9]. M. Quraish Shihab, Wawasan
Al-Qur’an (Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat), (Jakarta; Mizan,
2004), Hlm. 375 – 376
[12] .
Emile Durkheim, The Elementary Forms of The Religious
Life,terj. Inyiak Ridwan M. (Yogyakarta; Ircisod, 2011), Hlm. 56
Tafsir Teologis dan Ideologis Islam sebagai Mazhab HMI[1]
A. Islam
sebagai agama sempurna
Misi kedatangan Islam bermula ketika
agama-agama sebelumnya tidak mampu lagi menjawab kebutuhan manusia akan
aktualiasi kebutuhan spiritual terhadap kekuatan ghoib. Islam hadir dengan
menawarkan konsep-konsep penyempurnaan terhadap agama sebelumnya. Konsep-konsep
tersebut berupa jawaban terhadap kebutuhan manusia. Manusia memiliki sebuah
fitrah yang telah ada sejak proses penciptaan[2].
Sebab fitrah merupakan bawaan alami yang melekat dalam diri manusia.
Berdasarkan bentuknya agama terbagi atas
agama samawi dan agama ardhi[3].
Agama samawi adalah agama wahyu, agama langit, agama yang dibawa melalui
perantaraan nabi/rasulnya. Sedangkan agama ardhi adalah agama bumi, agama budaya,
agama filsafat, agama ra’yu, agama yang ciptakan manusia itu sendiri.
Berdasarkan kedua bentuk agama tersebut maka kita dihadapkan untuk memilih
agama, apakah agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) ataukah agama ardhi
(Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shintu dan termasuk aliran kepercayaan).
Setelah pembahasan tersebut, selanjutnya
manusia dihadapkan pada pilihan untuk memilih satu agama, apakah agama samawi
ataukah agama ardhi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut manusia perlu melalui
proses panjang, proses yang berliku-liku sebab pencarian terhadap agama hakiki
tak sama perbandingannya dengan pencarian dengan sebuah organisasi mahasiswa.
Untuk menentukan agama mana yang perlu
dimiliki oleh manusia, manusia perlu mengetahui dulu alasan untuk beragama.
Agama samawi sebagai agama wahyu yang datangnya dari Allah yang disampaikan
kepada ummat manusia melalui perantaran utusannya. Agama wahyu pada esensinya
adalah agama yang penuh dengan kasih sayang (Ar-Rahman – Ar-Rahim) dari Allah
kepada seluruh ummatnya agar manusia memiliki pedoman keselamatan dalam
mengarungi segala aktivitas kehidupan duniawi dan ukhrawi. Berdasarkan urian
singkat diatas maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk selamat dalam
menjalani kehidupan maka manusia diharuskan untuk berpedoman pada agama
samawi. Sebab agama samawi adalah agama yang
diwahyukan kepada manusia melalui para Nabi/Rasul-Nya.
Kita perlu membedakan juga ajaran para
nabi dan rasul yang bersifat loka-historis dan ajaran yang bersifat
normative-universal[4].
Ajaran Nabi Musa tentang cara penyembahan Allah SWT tentu berbeda dengan ajaran
agama yang dibawa oleh Nabi Isa. Ajaran penyembahan kepada Allah yang dibawa
oleh Nabi Isa tentu sangat jauh perbedaannya dengan ajaran yang dibawa oleh
Muhammad itu sendiri. Perbedaan tersebut didasarkan pada kondisi social-kemasyarakatan,
historiscal-demografi yang menghasilkan tipologi ritual yang berbeda-berbeda
dari setiap nabi. Ajaran agama hadir untuk memperbaiki kondisi-kondisi tersebut.
Sedangkan ajaran yang sifatnya universal tersebut adalah ajaran untuk tunduk
dan pasrah kepada Allah.
Islam dalam makna generiknya adalah
sikap pasrah dan tunduk (al-inqiyad wa
al-khudu)[5]
Islam sebagai agama sempurna menyempurnakan segala kekurangan dari
ajaran-ajaran nabi sebelum Muhammad. Penyempurnaan tersebut tidak hanya dari
segi aqidah tetapi juga dari segala bentuk ibadah dan akhlak. Termasuk yang
disempurnakan juga adalah kondisi kehidupan sosial, ekonomi, politik bangsa
arab pada saat itu.
Jadi pada dasarnya semua agama sama yang
menyembah satu Tuhan. Semua ajaran agama mengajarkan untuk tunduk dan pasrah
pada ketentuan Tuhan. Ajaran-ajaran agama hanya berbeda pada soal ketentuan syariat.
Khusus pada ajaran Agama Islam, Islam yang hadir belakangan bertujuan untuk
memperbaiki setiap perbedaan tersebut. Hanya saja pengikut-pengikut ajaran
terdahulu tidak terima dengan kehadiran Islam yang dibawa oleh Muhammad.
Pembahasan yang menjelaskan bahwa Islam
sebagai ajaran agama sempurna dengan
beberapa penjelasan dalam Kitab Suci ummat Islam. Ada beberapa ayat yang menjelaskan
hal tersebut diantaranya surah Al-Maidah ayat 3. Dalam artinya dikatakan
demikian
“… pada hari ini telah Aku sempurnakan
agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai
Islam sebagai agamamu…”
Dalam surah Al-Imran ayat 19. Artinya
kira-kira begini
“sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi
Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab
kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka. Barangsiapa yang kafir
terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya”.
Ayat tersebut mendeskripsikan bahwa
ajaran agama Islam-lah yang diridhoi oleh Allah, sebelum Islam kita mengenal
banyak ajaran agama yang ada pada bangsa arab pada saat itu. Muhammad datang
untuk menyempurnakan ajaran-ajaran Ibrahim yang terdahulu dengan Kitab Suci
Al-Quran dan Hadist. Islam bukan sebuah nama agama yang dibawa oleh Muhammad,
melainkan Islam merupakan ajaran Tuhan yang universal.
Akmal Tarigan yang mengutip pernyataan
Murtdha Muthahhari mengatakan; Al-Quran menyebut agama Tuhan itu Islam, dan
menggambarkannya sebagai suatu proses berkelanjutan sejak Adam AS hingga nabi
terakhir Muhammad. Ini tidak berarti bahwa agama Allah itu selalu dikenal
dengan Islam (sikap tunduk dan pasrah). Maksudnya adalah bahwa Islam merupakan
kata yang paling tepat untuk menggambarkan karakter agama ini[6].
Penjelasaannya adalah dari ayat tersebut dan pernyataan Muthahhari, Islam
memang hadir dalam rangka memperbaiki kondisi arab pada saat itu tidak hanya
memperbaiki masalah hukum yang berkaitan dengan syar’i tetapi mencakup
keseluruhan sendi kehidupan. Memperbaiki kondisi bergaul dengan macam suku,
bahasa, dan ras yang ada di arab pada saat tersebut yang lebih dikenal dengan
Piagam Madinah
Keistimewaan Islam merupakan bentuk dari
pernyataan bahwa Islam adalah agama hakiki. Keistimewaan Islam tidak terlepas
dari sumber ajaran agama Islam itu sendiri yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Kedua
sumber ajaran Islam itu memiliki keaslian otentik yang tidak pernah
berubah-ubah. Keistimewaan lain dari ajaran Islam adalah awal mula Islam yang
terlahir dalam kondisi masyarakat majemuk arab. Masyarakat arab pada saat
kedatangan Islam terdiri dari bermacam-macam suku/kabilah, bermacam-macam aliran
kepercayaan, bermacam-macam ras dari bangsa arab pada saat itu. Maka dari itu
Islam memiliki ajaran yang universal. Islam mengajarkan kepada setiap ummatnya
untuk selalu hidup dalam prinsip kasih sayang, nilai-nilai toleransi dan
pluralisme yang diyakini setiap ummatnya sebagai ajaran Islam yang Rahmatan Lil
Alamin.
B. Islam
sebagai nilai dasar HMI
HMI terlahir dalam kondisi Negara
Indonesia yang masih berkecamuk dalam mempertahankan kemerdekaan. Terbentuknya
Indonesia sebagai Negara tidaklah mudah
sebab setelah memproklamsikan kemerdekaanpun bangsa Indonesia masih menjadi target
untuk kembali dilakukan penjajahan. Belanda dan sekutunya tidak terima dengan
kemerdekaan Indonesia maka pada tahun periode 1947 dikenal dengan peristiwa agresi
militer belanda. Pada saat itu pula sebuah organisasi mahasiswa terlahir dengan
latar belakang mempertahankan kemerdekaan, mempertinggi derajat masyarakat
Indonesia dan mempertinggi derajat ummat Islam Indonesia yang berpegang pada
prinsip ajaran agama Islam. itulah Himpunan Mahasiswa Islam
Islam adalah agama sempurna maka pada saat
itu diputuskan bahwa asas dari organisasi tersebut berasaskan asas Islam[7]. Kesempurnaan Islam menjadi bagian dalam semangat perjuangan
HMI. Arah dan gerak HMI setia pada ajaran agama Islam. Islam dalam HMI adalah
Islam yang bersumber pada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah. Ke-Islaman,
ke-Indonesian dan Keintelektualan adalah ciri dari organisasi yang selalu diperjuangan
oleh setiap kader HMI.
Namun belakangan
banyak kalangan yang mengganggap bahwa HMI adalah Islam liberal[8].
HMI adalah Islamnya kebarat-baratan. Anggapan tersebut akan selalu menjadi
tantangan tersendiri oleh setiap kader HMI. Kader HMI mesti menjawab anggapan
tersebut dengan cara setiap kader HMI dalam pola ucap dan pola tindaknya
menonjolkan kepribadian dengan nilai-nilai yang bersumber pada Al-Quran dan
As-Sunnah. Kegiatan-kegiatan dakwah HMI perlu dihidupkan kembali dalam dunia
perkuliahan. Aktivitas dari setiap kader HMI dikembalikan lagi dalam ranah-ranah aktuliasasi
mesjid-mesjid kampus.
Keislaman pada organisasi HMI itu
dijabarkan secara lengkap pada materi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang
nantinya NDP pada HMI ini dijadikan sebagai sebuah ideologi. Nilai –Nilai Dasar
Perjuangan (NDP) HMI dikenal sebagai tafsir asas Islam[9].
Tafsir asas tersebutlah yang dijadikan sebagai pedoman dasar perkaderan. NDP
ditafsirkan sebagai metodologi dalam memahami Islam secara kaffah baik dalam
pola pikir dan maupun dalam pola tindak sehingga nantinya bisa diterjemahkan
dalam dimensi ruang dan waktu. NDP HMI merupakan konsep yang memuat nilai-nilai
ajaran Al-Quran yang bersifat universal, diajarkan kepada kader dengan
sekumpulan nilai. Ajaran NDP tidak memuat hal-hal yang sifatnya teknis
fiqhiyyah dan hal tersebut tidak diajarkan kepada kader. Melainkan diberikan
keleluasaan kepada kader apakah ia pengikut mazhab Syafi’i, Hanafi, Syiah,
Muhammadiyah, NU, Persis, dan sebagainya terserah kepada pribadi kader
masing-masing[10]
Tantangan terbesar hari ini adalah memberikan pemahaman yang jelas terkait
penerapan nilai-nilai dasar perjuangan.
C.
Iman
dan Persoalan Keyakinan Umat Manusia
Masalah keyakinan
kini sering menjadi pertanyaan masyarakat. Keyakinan kini sering dipertanyakan
sebab banyak bentuk keyakinan yang tidak berdasar ke-tauhidan. Ke-tauhidan kini
perlu diperjalaskan kepada setiap masyarakat sebab banyaknya masalah perbedaan
keyakinan menjadi salah satu pemicu konflik. Maka dari itu gerakan perbaikan
keyakinan perlu dilakukan oleh setiap masyarakat muslim. Iman dan keyakinan
perlu di update setiap harinya agar kehidupan lebih berwarna.
Perkara keimanan bukan hanya sekedar
sikap percaya kepada Tuhan. Sikap beriman akan menjadikan manusia memandang
Tuhan sebagai tempat menyandarkan diri dan menjadikan sebagai tempat
menggantungkan harapan sehingga konsistensi iman merupakan perwujudan dari
sikap berbaik sangka (khusnu zhan) kepada
Tuhan. Keimanan sering juga dikatakan sebagai sikap hidup/gaya hidup yang
dipercaya dalam bentuk melaksanakan perintah-perintah agama.
Masalah keimanan adalah masalah hati
yang sangat privat[11].
Menurut para ulama ketika ditanyakan tentang dimana letaknya iman?, para ulama
menjawabnya dengan mengatakan tempatnya ada didalam hati setiap manusia (mahalluha fi al-qalb) yang pada
esensinya adalah kehidupan sehari-hari cenderung takut berbuat kesalahan karena
memiliki keimanan. Sikap beriman berarti pula memiliki konsekuensi yang tinggi.
Pertama; kesedian untuk tunduk dan pasrah hanya kepada Allah. Kedua; kesedian
untuk mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala perintahnya sehingga nantinya
terwujud sikap positif, berperilaku kreati progresif yang akan menciptakan
peradaban baru.
Kehidupan beragama
menuntut umatnya agar memiliki keimanan sebab keimanan melahirkan tata nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa. Kehidupan sumbernya pada Tuhan dan kembalinya pun
kepada Tuhan. Sikap berserah diri kepada Tuhan adalah bentuk dari keyakinan
bahwa tiada tuhan selain Tuhan (Allah). Mengetahui dan meyakini bahwa dalam alam jagad raya ada yang mengaturnya, dialah Allah yang
memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki
oleh ummatnya.
Manusia harus yakin
bahwa hanya ada satu Tuhan yang Universal (monoteisme) bukan politeisme. Keyakinan akan Tuhan nantinya menjadi gairah dalam
setiap penyembahan. Ketika manusia sudah benar-benar yakin akan adanya Tuhan
dengan segala kuasanya maka segala aktivitas kehidupan akan selalu siap untuk
dpertanggunjawabkan dipengadilan Tuhan, yaitu hari Akhirat nantinya.
D.
Universalisme
Islam
Mengutip pernyataan Mahaguru kita Cak
Nur, yang mengatakan bahwa “Al-Islam
shalih li kulli zaman wa makan”[12].
Dalam terjemahan Indonesianya dikatakan bahwa Islam sesuai dengan segala zaman
dan tempat. Hal itu kita ketahui bersama bahwa Islam bukanlah
sebuah sekte atau agama budaya melainkan Islam merupakan ajaran yang sifatnya
universal. Agama yang tidak hanya hadir dalam bangsa arab tetapi juga Islam
bisa diterima dinegara-negara barat dan negara-negara bagian timur karena
kekhasan ajarannya yang mudah diterima oleh setiap masyarakat. Dan juga Islam
merupakan agama yang paling
banyak mencakup berbagai macam suku, budaya, serta ras dari setiap pemeluk
agama Islam sangat berbeda-beda.
Bangsa arab tidak bisa memonopoli bahwa
Islam merupakan agama yang hanya diperuntukkan oleh bangsa arab. Ajaran agama
Islam juga berlaku untuk bangsa non arab dan perlu diketahui bahwa tidak semua
bangsa arab beragama Islam. Pada dasarnya Islam diperuntukkan untuk seluruh
umat manusia. Muhammad merupakan utusan terakhir yang diberi amanah untuk
menyebarkan ajaran yang universal yaitu Islam. Hal ini membuktikan bahwa ajaran
Islam itu berlaku bagi bangsa arab dan juga berlaku untuk bangsa-bangsa bukan
arab. Keuniversalan Islam tidak bergantung pada suatu bahasa, tempat, ataupun
kelompok manusia.
Pokok pembahasan ajaran Islam yang
universal dapat ditinjau dari pengertian Islam itu sendiri. Islam dalam makna
generiknya mengajarkan bahwa Islam adalah sikap pasrah kepada Tuhan yang
diajarkan kepada manusia dan juga diajarkan kepada seluruh alam raya. Dalam
kitab suci Al-Quran kita mendapati penegasan bahwasanya ajaran agama para nabi
terdahulu sebelum Muhammad adalah semuanya al-islam.
Maksudnya adalah mengajarkan sikap patuh dan pasrah kepada setiap umatnya.
Dalam surah al-baqarah ayat 131 yang
terjemahannya sebagai berikut :
Ingatlah ketika Tuhannya (yakni Tuhan
nabi Ibrahim) berfirman kepadanya, “berserah dirilah!’ dia menjawab, “aku
berserah diri kepada Tuhan seluruh alam”.
Karena merupakan inti semua agama yang
benar itu al-islam atau pasrah kepada
Tuhan adalah pangkal adanya hidayah Ilahi kepada seseorang. Maka al-islam menjadi landasan universal
kehidupan manusia berlaku untuk setiap orang, disetiap tempat dan waktu[13].
Dari tulisan sangat singkat ini, penulis
memohon maaf apabila ada kekeliruan pemahaman terhadap Islam. Mari kita
mendiskusikannya…
[1]
Oleh Akmaluddin dalam kajian rutin Komisariat Hukum 47
[2] Murtadha Muthahhari, “Fitrah”, (Jakarta: Lentera, 1999),
hlm 20
[3] Lihat buku materi “Keislaman dan Ibadah” (Malang: UMM
pres 2012), hlm 5
[4] Azhari Akmal Tarigan, ”Islam Mazhab HMI tafsir tema
besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), (Jakarta:Kultura 2007) hlm 9
[5] Idem, hal 7
[6] Idem hlm 10
[7]
Lihat konstitusi HMI pasal III
[8]
Tulisan ini dibuat (salah satu tujuannya) untuk menanggapi kegelisahan seorang
kader yang dalam pemikiran subjektifnya menilai akan hal tersebut.
[9] Azhari Akmal Tarigan, ”Islam Mazhab HMI tafsir tema
besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), (Jakarta:Kultura 2007) hlm 1
[10]
Idem hlm 3
[11]
Idem hlm 13
[12]
Nurcholish Madjid, “Islam Doktrin dan Peradaban sebuah telaah kritis tentang
masalah keimanan, kemanusiaan dan komederenan”, (Jakarta; Paramadina cetakan
ketiga 1995), hlm 425
[13]
Idem hlm 435
Langganan:
Komentar (Atom)